Alkisah ada sebuah kerajaan di negeri antah
berantah yang dipimpin oleh seorang raja yang amat bijaksana. Raja itu memiliki
seorang putri yang amat cantik jelita yang diberi nama Putri Delima. Kecantikan
putri itu sudah tersohor dimana-mana. Semua orang baik para raja, bangsawan,
dan rakyat jelata telah mendengar kecantikan Putri Delima. Bahkan seluruh
binatang pun mengakui kecantikannya.
Syahdan, seekor burung garuda juga mendengar
tentang kecantikan putri itu. Dia sangat penasaran dengan rupa sang putri
karena tidak pernah melihatnya, hingga dia memutuskan untuk melihat sang putri
dengan mata kepalanya sendiri. Keesokan harinya dia memutuskan untuk pergi ke
istana dimana Putri Delima berada.
Sedangkan Putri Delima sedang bermain-main
dengan asyiknya di taman istana bersama dayang-dayangnya. Mereka berlarian
kesana kemari dan mencoba menangkap satu sama lainnya. Sang putri yang tak mau
ditangkap berlari terus hingga berpisah dari dayang-dayangnya. Sang garuda yang
sedang terbang melihat ke arah taman istana dan di sana terlihat dengan jelas
seorang gadis yang sangat cantik rupanya sedang bersembunyi dari
dayang-dayangnya. Pasti itu Putri Delima, pikirnya. Muncullah hasratnya untuk
memperistrikannya.
Tanpa mengulur waktu lagi, dia langsung turun
dan menangkap Putri Delima.
“Tolong….. tolong……,” teriak Putri Delima
yang kini sudah berada dalam cengkraman kaki garuda itu.
Teriakan itu didengar oleh dayang-dayang dan
mereka pun berteriak meminta tolong ke prajurit- prajurit istana. Semua
prajurit dan juga orang di istana keluar dan mencoba untuk membunuh garuda itu.
Ada yang memanahnya, melempar tombak, tapi mereka tidak berhasil membunuh
garuda itu yang kini sudah terbang meninggalkan istana.
Kini tinggallah raja dengan hati yang bermuram
durja karena kehilangan putri semata wayangnya. Disuruhnya seluruh pengawal
untuk mencari putri, tapi mereka tidak menemukannya, hingga dibuatlah sebuah
sayembara. Bagi siapa yang dapat membawa putri kembali dengan selamat maka dia
akan diberi hadiah. Jika dia laki-laki, maka dia akan dinikahkan dengan sang
putri, tapi jika dia perempuan, maka akan dijadikan saudara. Banyak sekali
orang terutama pemuda-pemuda yang mengikuti sayembara itu. Tapi mereka hanya
bisa membawa hasil yang nihil. Raja pun semakin sedih.
Hatta, dekat dengan sebuah hutan, tinggallah
seorang ayah bersama empat anak laki-lakinya. Masing-masing anak laki-lakinya
itu mempunyai satu keahlian. Anak sulung sangat pandai meneropong. Anak kedua
sangat mahir mencuri. Anak ketiga sangat pandai menembak, dan si anak bungsu
sangat pintar mengelas.
Akhirnya sayembara itu terdengar juga ke
telinga mereka. Esok harinya mereka menghadap sang raja dan mengatakan bahwa
mereka akan berusaha mencari Putri Delima. Raja hanya mengangguk dengan lemas
tanpa ada harapan yang besar dari keempat pemuda itu.
Mulailah keempat bersaudara itu menyusun strategi
untuk mencari putri raja mereka. Mereka pergi ke atas gunung untuk meneropong
tempat garuda itu membawa sang putri. Anak kedua yang mahir dalam meneropong
langsung melakukan tugasnya,
“Aku tahu di mana garuda itu menyembunyikan
Putri Delima,” ucap anak sulung sambil meneropong.
“Dimana?” tanya ketiga saudaranya.
“Dia ada di sarang garuda itu dan sarangnya ada
di sebuah pulau di tengah-tengah laut. Kita harus cepat-cepat ke sana,” Kata
anak sulung.
Setelah itu mereka langsung menuju pulau itu
dengan sebuah perahu. Sampai di sana, diteropong sekali lagi oleh anak sulung,
dan dilihatnya garuda itu sedang tidur. Tiba waktunya untuk menyelamatkan Putri
Delima. Anak kedua yang sangat lihai dalam mencuri langsung masuk ke sarang
burung itu dan mengambil Putri Delima yang berada di bawah sayap burung itu.
Sang garuda tidak menyadarinya sama sekali dan masih tidur dengan lelap.
Setelah berhasil menyelamatkan Putri Delima, si
anak kedua membawanya ke perahu dan mereka balik ke istana. Tapi baru berlayar
beberapa saat, ternyata burung garuda itu bangun. Dilihatnya putri tidak
ada lagi. Dia sangat marah. Dikepakkan sayapnya yang besar dan terbang mencari
Putri Delima. Dengan matanya yang tajam, dia dapat melihat putri sedang berada
dalam perahu bersama empat pemuda.
Empat adik abang itu juga melihat burung garuda
yang sedang marah besar itu. Si anak yang ketiga langsung mengambil senjatanya
dan menembak garuda. Sayap garuda mulai berdarah tapi dia masih kuat untuk
terbang. Ditembak sekali lagi di dadanya, dan burung garuda itu pun mati. Tapi
sayangnya badan garuda yang sudah jadi bangkai itu jatuh ke perahu hingga
menyebabkan perahu mereka rusak. Dengan sigap, si anak bungsu mengelasnya
sebelum mereka semua tenggelam. Akhirnya perahu itu bagus kembali seperti semula
dan keempat pemuda dan Putri Delima itu sangat senang. Tidak lama kemudian
tibalah mereka di istana.
Sesampai di istana, mereka disambut dengan suka
cita. Raja sangat senang melihat putrinya selamat. Dia pun mengucap rasa terima
kasihnya kepada keempat pemuda tersebut. tapi dia bingung, siapa yang akan
dinikahkan dengan putrinya, karena ada empat pemuda yang menyelamatkannya.
“Hambalah yang pantas menikahi Putri Delima
karena hamba yang mengetahui dimana putri berada. Kalau tidak hamba teropong,
pasti putri juga tidak akan ditemukan.,” kata anak sulung.
“Hambalah yang berhak menikahi Putri Delima
karena hamba yang mengambilnya langsung dari garuda,” ujar anak kedua.
“Hambalah yang lebih pantas menikahi Putri
Delima karena hamba yang membunuh garuda itu. Kalau tidak ada yang membunuh
garuda itu, pasti putri akan diculiknya lagi dan kami semua akan mati
dibunuhnya.” Balas anak ke tiga tidak mau kalah.
Raja semakin bingung mendengar alasan dari tiga
pemuda itu. “Bagaimana ananda? Siapa pilihanmu?” tanya raja kepada putri
delima.
“Ayahanda, sebaiknya kita dengar satu alasan
lagi dari pemuda ini,” ucap Putri Delima sambil menunjuk anak bungsu.
“Bagaimana menurutmu anak muda?”
“Daulat tuanku, kami semua bekerja sama dalam
menyelamatkan putri. Semuanya mempunyai peranan penting. Jadi hamba rasa, tidak
ada seorang pun di antara kami yang pantas untuk menikahi tuan putri.”
“Kalau begitu, engkaulah yang pantas
menikahiku.” Ucap Putri Delima.
Keempat pemuda dan raja itu terkejut mendengar
jawaban Putri Delima. “Apa alasan ananda memilih pemuda ini?” tanya raja.
“Karena jawaban pemuda ini sangat bijaksana
ayahanda, dia tidak ingin memperebutkan nanda seperti yang lainnya.”
“Baiklah, kalau begitu engkaulah yang pantas
menikahi putriku hai anak muda,” kata raja kepada si anak bungsu. Dia dan
ketiga saudaranya pun menerima keputusan raja dengan lapang dada. Sebagai rasa
terima kasih kepada tiga sudaranya lagi, raja memberi mereka berbagai hadiah,
seperti emas, intan, dan permata. Beberapa hari setelah itu
diadakanlah pesta yang sangat meriah selama tujuh hari tujuh malam untuk
merayakan perkawinan Putri Delima dan anak bungsu itu.
(Kisah ini ditulis ulang Rahmawati dari
lisan Bustamam (57 tahun), warga Pulo Lhee, Kecamatan Sakti,
Kabupaten Pidie)
-pernah dimuat di koran lokal Aceh, “Harian
Aceh”, 2009